LENTERA YANG PADAM
Gelap, dan pengap itu yang kurasakan saat kakiku melangkah memasuki sebuah ruangan yang tidak terlalu besar itu. Ruangan yang pernah ramai dengan tawa dan canda, ruangan dimana segala impian pernah terwujud. namun kini hanya menjadi ruangan kecil, kotor, dan gelap. Saat aku terduduk dipojok ruangan itu mataku tertuju pada sebuah benda kecil diatas meja yang penuh dengan debu, sebuah lentera kecil.
Ya, sebuah lentera seperti yang kubutuhkan, lentera yang kuharapkan dapat memberikan seberkas cahaya untuk menerangi ruangan gelap dan kotor ini, lalu tanpa berpikir panjang kuambil lentera itu dan kunyalakan. Tampak api kecilnya mulai menyala, menari kian membesar, dan cahayanya menerangi ruangan itu. Tak kusngka lentera yang telah lama padam itu dapat memberikan cahayanya.
Setelah beberapa lama perhatian ku tertuju pada sebuah dinding kusam dihadapanku, beberapa kenangan indah terpajang dihadapanku, foto-foto lama yang kini telah kusam dimakan waktu dan berdebu. malam kian larut udara dingin pun mulai menggigit, semilir angin malam melewati celah lubang angin menggoyangkan nyala kecil lentera itu, meredupkan cahayanya, seakan tampak akan padam kemudian menggeliat lagi berjuang keras melawan tiupan angin.
Wahai lentera kecil apakah ini waktumu untuk padam ?
Wahai lentera kecil akankah kau berhenti bersinar ?
Wahai lentera kecil mampukah kau membawa kembali keceriaan, impian, dan cita - cita ?
Sayub - sayub adzan subuh terdengar dikejauhan tanda hari baru telah datang, lentera kecil api mu kini telah mengecil dan akhirnya……….padam. kegelapan menyelimuti ku lagi, lentera ku kini kau telah padam. Kini aku harus pergi meninggalkanmu sendiri di sudut ruang ini,
aku harap esok disaat kegelapan datang kembali, akan ada tawa riang yang menyalakan mu kembali.

Leave a Reply